Postingan

Perahu Kertas #16

Aku tidak dianggap sebagai manusia. Hanya itu kalimat yang bisa membantuku menafsirkan semuanya. Jika disimpulkan, ceritanya sangat indah. Rangkaian pertemuan ia dengan bidadari yang tanpa disangka, membuatnya bahagia selama 21 hari. Kemudian bidadari itu mendadak pergi dan menjadikan 21 hari berikutnya teramat sedih. Sedangkan aku, dibuatnya menjalani 176 hari bahagia dengan rasa takut kehilangan. Lalu aku putuskan pergi dengan berat hati. 74 hari berikutnya jadi hari berkabung bagiku, dengan penuh tanya, tangis, dan penyesalan. Di mana dalam 74 hari sedihku ia sedang berbahagia sekaligus menangisi orang lain, sang bidadari. Apa yang bisa kulakukan? Tidak ada. Tapi meskipun merasa tidak dianggap sebagai manusia yang punya perasaan, aku senang bisa mendengar cerita itu langsung dari mulutnya. Aku bersyukur ternyata ia masih percaya padaku. Percaya untuk menceritakan hari bahagia dan sedihnya. Setidaknya ia masih menganggapku sebagai teman.

Perahu Kertas #15

Halo semesta. for the other reason. I know that's a beautiful swan come and go in the lake that reflected by the light of moon pardon me

Perahu Kertas #14

Halo Semesta, bintang-bintang di sini sedang menyapa. Semalam aku mimpi bertemu Sirius. Kami membicarakan banyak hal, terutama tentang keadaan masing-masing. Di sana ramai, ada kak perawat juga. Menyenangkan bisa mendengarkan kisah hidup Sirius, seperti dulu waktu SMP dan SMA. Seperti biasa, Sirius selalu punya cerita super keren untuk ia bagikan. Pembawaannya selalu menarik, tidak pernah bikin ngantuk. Kadang heran, tiba-tiba ia hadir di mimpiku. Dari dulu sampai kapanpun, aku rasa tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Sirius. Bagiku ia adalah yang terbaik.

Perahu Kertas #13

  Manusia penuh dengan kata tanya Senandung apa  Kenapa  Bagaimana Yang dituju bergidik  Seolah semua tanpa makna Tiada tera tiada jera Merelokasi   ingatan di tengah gusar Menjerit risau di ujung batu bercula Menangis kisruh di ruang antipati  Namun hanya hampa menyapa Tidak tahu marah pada siapa Sekali batu  selamanya demikian Mungkin ini saatnya melepaskan

Perahu Kertas #12

Halo Semesta.. Dan aku benar-benar menyesal.

Perahu Kertas #11

Selamat pagi juga, Angkasa. "Lebih baik menyesal karena sudah membeli barang, daripada menyesal karena tidak pernah membelinya sama sekali," begitu katamu beberapa waktu lalu. Aku turuti. Begitu kompleks. Pada akhirnya, harus ada kata kehilangan. Hidup itu pilihan, Angkasa. Kalimat klise yang seringkali orang lupakan. Mungkin kamu juga lupakan. Jika ditanya apakah aku menyesal, jelas. Tidak ada lagi yang senantiasa mendengarkan keluhan atau cerita hariku yang remeh temeh. Tidak ada pula suara keluh dan risaumu dari ujung sana—yang membuatku gemas, ingin mengacak-acak kepalamu tiap kali mendengarnya. Tidak mengapa. Toh sebelumnya juga tidak ada "ritual" itu dan kita baik-baik saja.

Perahu Kertas #10

 Halo semesta, yang sedang bergemuruh. Tidak ada yang lebih baik dari rumah, bersama orang-orang yang disayangi. Ditambah cuaca sendu dengan miliaran air jatuh dari langit. Meskipun dingin, tetap terasa hangat. Namun, tidak semua orang berada dalam posisi yang sama. Di waktu yang sama, seseorang bisa saja hanya seorang diri tanpa ditemani siapapun. Hanya ditemani ngiangan di dalam kepala tanpa tahu-bahkan sangat tidak ada kemungkinan untuk orang yang dimaksud juga memikirkan hal yang sama. Semakin ke sini, kehidupan yang berjalan semakin membingungkan. Orang berkata sering kali tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya. Aku pernah bertanya kepada temanku saat mengerjakan tugas bersama, "menyembunyikan perasaan? Gimana bisa tau kalau orang menyembunyikan perasaan?" Kataku sambil membaca daftar isian panduan observasi. "Tanya ke diri kau sendiri." Hanya itu penggalan percakapan yang aku ingat. Wajahnya datar saat berkata seperti itu disampingku, tetap fokus de...