Postingan

Perahu Kertas #25

Hamparan asa hilang bersama angin. Saat ini aku merasa hatiku sudah membeku. Lupa bagaimana rasanya berapi-api hendak bertemu dengan seseorang. Seperti sirna, semangatnya telah patah. Seperti pupus, tidak ada gunanya mencoba. Sebab, sudah khatam bahwa jawabannya adalah penolakan. Angkasa, aku harus bagaimana? Aku tidak mau sampai menyerah, tapi aku juga sudah lelah. *tambahan tulisan miring ini aku tulis tanggal 29 Juli 2022. Ternyata sampai saat ini aku belum menyerah. Memang belum menyerah, tapi aku memutuskan untuk lebih menerima. Aku tidak pergi atau menjaga jarak. Aku hanya tidak ingin berbuat salah dan banyak menuntut lagi, terlebih berharap.

Perahu Kertas #24

Perjalanan pulang dari Jogja-Jakarta-Pontianak bersama Angkasa adalah perjalanan paling menyenangkan yang pernah aku alami. *tambahan tulisan miring ini aku tulis tanggal 29 Juli 2022. Memang benar. :)

Perahu Kertas #23

Selamat malam, Aku menyebut seorang yang aku suka dengan nama Angkasa juga ya di sini? Ohiya benar, ada di Perahu Kertas awal-awal. Ini adalah postingan pertama di tahun 2022, meskipun tidak juga. Januari kemarin aku sempat mau menulis, tapi entah kenapa tulisannya terpotong, baru tiga baris. Sepertinya waktu itu aku mau berterharu ria karena sedang bersenang ria tapi jatohnya inget-inget yang bersedih ria. Yah, begitulah. Di tahun ke-22 ini—ceilah baru juga jalan 10 hari, aku merasa jadi orang yang dewasa awal itu.. sungguh tidak enak. Memberatkan. Penuh masalah yang timpang tindih, bersangkut-paut, bak domino. Satu hal dapat berkelindan dengan hal lain. Berinteraksi dengan manusia adalah hal paling rumit, ya siapa pula yang bilang gampang. Mereka punya 1001  defense mechanism . Niat ingin berpesan A, yang ditangkap B, dampaknya C. Aghh! Setelah dibaca ulang, jelek sekali ya tulisanku. Kalimat pertama paragraf pertama dengan kalimat selanjutnya ngga nyambung. ew. Tapi, pada d...

Perahu Kertas #22

Semesta semakin lama semakin lucu dan aneh saja, ya? Aku mulai merasa tahun ini adalah tahun teraneh. Dimulai dengan kebingungan sana-sini, lalu diakhiri dengan fakta menyenangkan bukan main wkwk. Yeah, setidaknya menyenangkan bagiku. Meskipun ini bukan ending , aku sudah belajar cukup banyak, jadi—semoga saja, akan lebih baik. Satu sisi muncul pertanyaan, "apakah sebaiknya kusimpan rasa suka ini atau dibuang saja yang jauh?" Diikuti dengan cabang pikiran yang semakin ditarik, dahannya jadi semakin banyak. Bikin takut saja. Tidak, tidak, aku tidak mau merasa seperti itu lagi. Setelah kutelaah diriku lebih dalam, akar masalah ada di rasa takut dan cemas berlebihan. Outputnya bisa jadi banyak macam. Aku jadi gampang marah, sedih, kesal, tidak terima, berpikir negatif, dan mengekang diri sendiri. Parahnya sampai mengekang orang lain juga. Sungguh maafkan aku. Sikap yang paling benar sejauh ini sepertinya, ya sudah, lepaskan saja. Tidak ada yang perlu dipaksakan atau takut akan k...

Perahu Kertas #21

Aku rasa, semakin dewasa akan semakin banyak kata yang sebaiknya tidak perlu diucapkan. Semakin dewasa, semakin sedikit manusia yang benar-benar berarti. Semakin dewasa, kebutuhan sosial itu susah untuk digapai. Kamu hanya bisa bergantung pada diri sendiri. Mau tidak mau, hal yang tidak mau menjadi, ya.. mau tidak mau. Entah itu untuk dijalani, disyukuri, diterima dengan lapang dada. Tidak semua berjalan dengan apa yang dimau. Terlalu banyak berharap hanay akan menyakiti diri sendiri. Menunggu yang tidak mengharapkan kita sama sekali, sepertinya hanya akan buang-buang waktu. Tidak ada yang tahu masa depan, memang. Bahagiakanlah diri untuk saat ini, hidupmu adalah untuk kamu yang sekarang. Jika nanti memang tidak bisa disusun dari sekarang, susunlah yang bisa disusun sekarang. Kehilangan motivasi dan kepercayaan sepertinya wajar, namun orang lain sudah berlari sampai jauh. Mau tidak mau (lagi), harus berjalan diantara arus. Tidak berusaha atau malah berbalik hanya akan menyusahkan diri ...

Perahu Kertas #20

Tahun 2021 adalah tahun yang lucu. Ada plot twist di mana-mana. Beberapa bulan menuju akhir dari 2021, ternyata masalah yang muncul di awal tahun berangsur-angsur usai. Muncul cerita baru, tokoh baru, dan segera menghantarkan ke masalah yang sudah menanti di masa depan. Begitulah hidup, bukan? Setidaknya aku jadi belajar banyak dari kisah patah hati kali ini. Menyadari betapa bodohnya aku dan.. ya, aku mengakuinya. Menyadari begitu banyak kekurangan yang aku miliki, begitu dangkal isi kepalaku, begitu egois, begitu buruk caraku bersikap maupun berucap.  Aku tidak menyesal akan apa yang telah terjadi di tahun ini―setidaknya untuk saat ini, karena aku jadi bisa memaknai setiap langkah yang telah kulalui. Semoga saja tidak sia-sia.

Perahu Kertas #19

Selamat pagi semesta. wkwk lama-lama kata semesta di awal ini buat muak juga ya Aku mau ngabarin sesuatu. Ternyata isi blog ini tidak berjalan seperti yang aku rencanakan di awal segmen "Perahu Kertas". Awalnya aku ingin menulis tiap postingan dengan momen yang sudah aku jalani bersama Angkasa. Kegiatan-kegiatan yang rutin kami jalani seperti mengunjungi Selasa Wage tiap bulan, nugas sampai matahari terbit―dua kali aja sih, tidak rutin, dua-duanya di KFC Jakal, nugas tapi malah cerita keseharian masing-masing di Krink's Milk, Omah WK, Kaktus, pengalaman pertama kalinya aku nonton bioskop berdua, Tambakboyo, awal-awal analog, dan entahlah.. sampai pada akhirnya pandemi. Aku tidak lagi mungkin bertemu dengannya.  Nah ceritanya, dengan menulis di sini akan jadi pengobat rindu buatku. Membolak-balik memori indah bersama Angkasa yang ada di kepala. Tetapi kenyataan berkata lain. Saat jauh, aku dan Angkasa tetap berkomunikasi dengan lancar. Awalnya karena tugas-tugas, urusan le...