Postingan

Perahu Kertas #21

Aku rasa, semakin dewasa akan semakin banyak kata yang sebaiknya tidak perlu diucapkan. Semakin dewasa, semakin sedikit manusia yang benar-benar berarti. Semakin dewasa, kebutuhan sosial itu susah untuk digapai. Kamu hanya bisa bergantung pada diri sendiri. Mau tidak mau, hal yang tidak mau menjadi, ya.. mau tidak mau. Entah itu untuk dijalani, disyukuri, diterima dengan lapang dada. Tidak semua berjalan dengan apa yang dimau. Terlalu banyak berharap hanay akan menyakiti diri sendiri. Menunggu yang tidak mengharapkan kita sama sekali, sepertinya hanya akan buang-buang waktu. Tidak ada yang tahu masa depan, memang. Bahagiakanlah diri untuk saat ini, hidupmu adalah untuk kamu yang sekarang. Jika nanti memang tidak bisa disusun dari sekarang, susunlah yang bisa disusun sekarang. Kehilangan motivasi dan kepercayaan sepertinya wajar, namun orang lain sudah berlari sampai jauh. Mau tidak mau (lagi), harus berjalan diantara arus. Tidak berusaha atau malah berbalik hanya akan menyusahkan diri ...

Perahu Kertas #20

Tahun 2021 adalah tahun yang lucu. Ada plot twist di mana-mana. Beberapa bulan menuju akhir dari 2021, ternyata masalah yang muncul di awal tahun berangsur-angsur usai. Muncul cerita baru, tokoh baru, dan segera menghantarkan ke masalah yang sudah menanti di masa depan. Begitulah hidup, bukan? Setidaknya aku jadi belajar banyak dari kisah patah hati kali ini. Menyadari betapa bodohnya aku dan.. ya, aku mengakuinya. Menyadari begitu banyak kekurangan yang aku miliki, begitu dangkal isi kepalaku, begitu egois, begitu buruk caraku bersikap maupun berucap.  Aku tidak menyesal akan apa yang telah terjadi di tahun ini―setidaknya untuk saat ini, karena aku jadi bisa memaknai setiap langkah yang telah kulalui. Semoga saja tidak sia-sia.

Perahu Kertas #19

Selamat pagi semesta. wkwk lama-lama kata semesta di awal ini buat muak juga ya Aku mau ngabarin sesuatu. Ternyata isi blog ini tidak berjalan seperti yang aku rencanakan di awal segmen "Perahu Kertas". Awalnya aku ingin menulis tiap postingan dengan momen yang sudah aku jalani bersama Angkasa. Kegiatan-kegiatan yang rutin kami jalani seperti mengunjungi Selasa Wage tiap bulan, nugas sampai matahari terbit―dua kali aja sih, tidak rutin, dua-duanya di KFC Jakal, nugas tapi malah cerita keseharian masing-masing di Krink's Milk, Omah WK, Kaktus, pengalaman pertama kalinya aku nonton bioskop berdua, Tambakboyo, awal-awal analog, dan entahlah.. sampai pada akhirnya pandemi. Aku tidak lagi mungkin bertemu dengannya.  Nah ceritanya, dengan menulis di sini akan jadi pengobat rindu buatku. Membolak-balik memori indah bersama Angkasa yang ada di kepala. Tetapi kenyataan berkata lain. Saat jauh, aku dan Angkasa tetap berkomunikasi dengan lancar. Awalnya karena tugas-tugas, urusan le...

Perahu Kertas #18

orang-orang saling melukai satu sama lain.

Pikiran Kacau #1

Apakah ini kategori baru? Iya kali wkwk Sedikit pembuka, aku ― sama seperti kebanyakan manusia 20 tahunan lainnya ― suka overthinking. Tidak, aku tidak suka, tapi suka dalam artian ya,  u know la. Di satu waktu aku bisa memikirkan seabrek opsi sekaligus. Kemungkinan, peluang, atau bahkan prediksi yang bisa terjadi di tempat lain maupun di waktu yang akan datang. Mendesak masuk gak pake ngantri. Main dorong-dorong aje tuh impuls. Efeknya, aku jadi banyak diam. Mikir hal-hal yang negatif, tapi juga hal-hal yang positif. Mereka beradu. Yah, begitulah. Tidak ada sangkut pautnya juga sih sama yang mau aku tulis kali ini. Tapi intinya, isi tulisan di label ini bakal kacau. Sekacau hatiku pas balon warna ijo meletus. Dor! Aku mau cerita. Setelah melihat orang-orang bucin di medsos, ternyata tidak semua penonton akan menganggap itu unyu. Contohnya aku . M ungkin karena cara, profil pasangan, tampilan, penampilan, lokasi, intensitas, dan banyak lagi faktor ― paling utama faktor perspektif y...

Perahu Kertas #17

Halo, semesta. Sebagaimana bumi yang terus berputar, manusia terus berubah. Beradaptasi dengan kondisi yang mau tidak mau dihadapi. Berdamai dengan semua keadaan, atau menolak dengan segala pelarian. Mudah saja mengatakan, "terima saja". Tapi sungguh, sulit sekali untuk direalisasikan. Sekarang adalah tahap adaptasi. Butuh waktu lama untuk menerima semua kenyataan. Setahun? Mungkin lebih. Peristiwa yang terjadi belakangan aku anggap sebagai arena latihan. Subjek yang aku hadapi, aku anggap sebagai penguji benar salah perbuatanku. Seringnya salah, karena hampir semua pergerakan yang aku lakukan muncul dari rasa impulsif. Sayangnya dampak yang muncul menjadikan aku tidak leluasa berperan sebagai aku―yang biasanya tampil di hadapan teman-teman terdekat. Aku tahu, aku mengganggu. Tidak, aku tidak tahu. Aku bukan peramal yang bisa tahu isi hati manusia. Tapi sepertinya memang demikian, bukan? Tenang saja, aku akan berhenti melakukan semua ini saat pada akhirnya semua usai. Aku per...

Perahu Kertas #16

Aku tidak dianggap sebagai manusia. Hanya itu kalimat yang bisa membantuku menafsirkan semuanya. Jika disimpulkan, ceritanya sangat indah. Rangkaian pertemuan ia dengan bidadari yang tanpa disangka, membuatnya bahagia selama 21 hari. Kemudian bidadari itu mendadak pergi dan menjadikan 21 hari berikutnya teramat sedih. Sedangkan aku, dibuatnya menjalani 176 hari bahagia dengan rasa takut kehilangan. Lalu aku putuskan pergi dengan berat hati. 74 hari berikutnya jadi hari berkabung bagiku, dengan penuh tanya, tangis, dan penyesalan. Di mana dalam 74 hari sedihku ia sedang berbahagia sekaligus menangisi orang lain, sang bidadari. Apa yang bisa kulakukan? Tidak ada. Tapi meskipun merasa tidak dianggap sebagai manusia yang punya perasaan, aku senang bisa mendengar cerita itu langsung dari mulutnya. Aku bersyukur ternyata ia masih percaya padaku. Percaya untuk menceritakan hari bahagia dan sedihnya. Setidaknya ia masih menganggapku sebagai teman.