Postingan

Perahu Kertas #13

  Manusia penuh dengan kata tanya Senandung apa  Kenapa  Bagaimana Yang dituju bergidik  Seolah semua tanpa makna Tiada tera tiada jera Merelokasi   ingatan di tengah gusar Menjerit risau di ujung batu bercula Menangis kisruh di ruang antipati  Namun hanya hampa menyapa Tidak tahu marah pada siapa Sekali batu  selamanya demikian Mungkin ini saatnya melepaskan

Perahu Kertas #12

Halo Semesta.. Dan aku benar-benar menyesal.

Perahu Kertas #11

Selamat pagi juga, Angkasa. "Lebih baik menyesal karena sudah membeli barang, daripada menyesal karena tidak pernah membelinya sama sekali," begitu katamu beberapa waktu lalu. Aku turuti. Begitu kompleks. Pada akhirnya, harus ada kata kehilangan. Hidup itu pilihan, Angkasa. Kalimat klise yang seringkali orang lupakan. Mungkin kamu juga lupakan. Jika ditanya apakah aku menyesal, jelas. Tidak ada lagi yang senantiasa mendengarkan keluhan atau cerita hariku yang remeh temeh. Tidak ada pula suara keluh dan risaumu dari ujung sana—yang membuatku gemas, ingin mengacak-acak kepalamu tiap kali mendengarnya. Tidak mengapa. Toh sebelumnya juga tidak ada "ritual" itu dan kita baik-baik saja.

Perahu Kertas #10

 Halo semesta, yang sedang bergemuruh. Tidak ada yang lebih baik dari rumah, bersama orang-orang yang disayangi. Ditambah cuaca sendu dengan miliaran air jatuh dari langit. Meskipun dingin, tetap terasa hangat. Namun, tidak semua orang berada dalam posisi yang sama. Di waktu yang sama, seseorang bisa saja hanya seorang diri tanpa ditemani siapapun. Hanya ditemani ngiangan di dalam kepala tanpa tahu-bahkan sangat tidak ada kemungkinan untuk orang yang dimaksud juga memikirkan hal yang sama. Semakin ke sini, kehidupan yang berjalan semakin membingungkan. Orang berkata sering kali tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya. Aku pernah bertanya kepada temanku saat mengerjakan tugas bersama, "menyembunyikan perasaan? Gimana bisa tau kalau orang menyembunyikan perasaan?" Kataku sambil membaca daftar isian panduan observasi. "Tanya ke diri kau sendiri." Hanya itu penggalan percakapan yang aku ingat. Wajahnya datar saat berkata seperti itu disampingku, tetap fokus de...

Perahu Kertas #9

Halo, semesta! Makin ke sini, semakin banyak kejanggalan. Lalu tersadar, "ada yang 'salah'." "Salah" karena aku merasa ini terlalu cepat. Awalnya kejanggalan itu menghantui diriku saja, tidak mengapa. Tidak berbalas juga tidak mengapa. Aku senang membuat seseorang merasa spesial, karena memang begitu adanya di mataku. Memang begitu yang aku rasakan dan ingin aku lakukan. Namun, ini berbalas terlalu cepat. Aku takut, bila belum waktunya malah kemudian ia menghilang. Berhenti di tengah jalan. Yaampun, apa yang aku pikirkan? Jelas semua itu ia lakukan karena respek sebagai teman yang baik.  Good buddy. Tidak kurang, tidak lebih. Yang ia lakukan adalah benar, itulah teman yang baik. Hanya saja, apalah pikiran remaja akhir satu ini. Kalau kata anak zaman sekarang, baper. Ya, sepertinya demikian adanya. Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan secara berlebih. Tapi mau bagaimana lagi? Tidak pernah jauh dari kepalaku, "aku sayang Angkasa." Sayang sekali. N...

Perahu Kertas #8

 Halo semesta. That's hurt.  Entahlah, rasanya sesak.  ... Agh! Awalnya aku sedang sedih, drama Korea It's Okay to Not Be Okay benar-benar buatku terbawa. Stimulus yang masuk bisa sampai menyerang kognitifku. Tapi, saat aku sedang terenyah..  Seseorang mengirimkan pesan. Tidak, bukan. Lewat tengah malam ia hanya mengirim spam stiker dari aplikasi Zenly. Rasanya ingin mengumpat. Saat aku sedang tidak membutuhkannya, ia datang bersama foto profil berdua pacar barunya-yang sudah lama. Itu Sirius. Buat apa dia mengirimkan hal semacam itu. Sungguh tidak ada kerjaan. ... Aku ingin bertanya, salahkah aku? Sirius datang dari masa lalu. Dua tahun lagi akan genap 10 tahun usia rasa sukaku padanya, cinta pertama. Sirius pernah mengungkapkan perasaannya di hadapanku 6 tahun lalu. Namun sayang, aku belum pernah menjawab pertanyaannya hingga sekarang. Baiklah, kuakui aku salah. Sampai ia telah berpacaran dengan dua orang berbeda. Yang terakhir masih bertahan hingga sekarang. Seper...

Perahu Kertas #7

Selamat siang, semesta. Memang, jarak tidak selamanya memiliki arti. Meski sudah dekat pun, bukan berarti kualitasnya membaik. Seperti sekarang ini. Berada di kota yang sama ternyata tidak berarti banyak, sama saja. Bahkan lebih buruk. Tiap sudut pikiran tidak habisnya membahas, "kapan percakapan seperti itu kembali menghampiri?" Ayolah, bangun dari mimpi.